Lampung Barat — MediaViral.net
Pesta Sekura Cakak Buah kembali meledak dengan kemeriahan di Pekon Kegerinan, Kecamatan Batu Brak, Rabu (25/3/2026). Tawa, sorak sorai, dan kebersamaan tampak begitu nyata. Tapi di balik itu semua, Wakil Bupati Lampung Barat, Mad Hasnurin, justru melontarkan kritik yang terasa seperti “tamparan keras” bagi masyarakatnya sendiri.
Alih-alih larut dalam euforia, Mad Hasnurin secara blak-blakan mempertanyakan: apakah kebersamaan yang dipamerkan hari ini benar-benar tulus, atau hanya sekadar “topeng budaya” yang dipakai setahun sekali?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jangan sampai kita hanya pandai bersatu di atas panggung, tapi terpecah saat menghadapi kenyataan,” tegasnya dengan nada tajam.
Tradisi Sekura Cakak Buah yang sarat makna gotong royong—di mana peserta harus saling menopang untuk mencapai puncak—justru dijadikan cermin untuk menguliti realitas sosial yang dinilai masih jauh dari ideal.
Menurutnya, semangat kolektif yang begitu kuat dalam arena Sekura seringkali menghilang ketika masyarakat dihadapkan pada kepentingan pribadi, konflik, dan ego masing-masing.
“Di sini semua kompak, saling bantu. Tapi di luar, masih ada sekat, masih ada kepentingan yang memecah. Ini yang harus kita akui,” sindirnya tanpa basa-basi.
Pernyataan itu sontak menjadi sorotan. Sebab, di tengah suasana perayaan yang seharusnya penuh pujian, justru muncul kritik terbuka dari orang nomor dua di Lampung Barat.
Ia bahkan mengingatkan, jika nilai-nilai dalam Sekura hanya berhenti sebagai simbol, maka tradisi ini berpotensi kehilangan ruhnya—berubah dari warisan luhur menjadi sekadar tontonan kosong yang rutin dipertontonkan.
“Kalau hanya ramai saat acara, tapi tidak ada perubahan setelahnya, ini bukan kebersamaan—ini ilusi,” ujarnya menohok.
Lebih jauh, Mad Hasnurin menegaskan bahwa kemajuan Lampung Barat tidak akan pernah tercapai jika masyarakat masih berjalan sendiri-sendiri, apalagi terjebak dalam konflik kepentingan yang tak kunjung usai.
Pesannya terdengar seperti peringatan keras:
“Jangan jadikan Sekura sebagai pelarian. Jadikan ini sebagai titik balik. Kalau tidak, kita hanya sedang merayakan kemunduran dengan kemasan budaya.”
Ucapan tersebut menjadi sinyal jelas—bahwa di balik kemeriahan Sekura Cakak Buah, ada kegelisahan besar tentang kondisi sosial masyarakat.
Kini pertanyaannya mengemuka: apakah masyarakat Lampung Barat siap menerima kritik itu, atau justru akan terus nyaman bersembunyi di balik gemerlap tradisi? (mediaviral.co)









