Medan, Sumatera Utara – MediaViral.net
Jangan terkecoh dengan label “silaturahmi”. Di balik acara halalbihalal yang digelar megah di Ballroom Santika Premiere Dyandra, Medan, Sabtu (4/4/2026), publik mulai mencium aroma lain: konsolidasi kekuatan elite yang disusun rapi dan senyap!
Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, hadir bersama Wakilnya Syafrizal dalam acara yang digagas Yayasan Gerakan Sumatera Utara Bergiat dan IKA MSP FISIP USU.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekilas tampak seperti acara penuh kehangatan. Tapi jika dicermati, komposisi tamu yang hadir justru memantik tanda tanya besar.
“Kebetulan” yang Terlalu Sempurna?
Di satu ruangan, berkumpul:
Musa Rajekshah — anggota DPR RI
Para anggota DPRD Sumatera Utara
Jajaran elit DPD Partai Gerindra
Publik mulai bertanya keras:
apakah ini benar-benar sekadar halal bihalal… atau forum “pemanasan” menjelang pertarungan politik besar?
Karena terlalu sulit percaya semua ini hanya kebetulan.
Santunan atau Panggung Simpati?
Acara ini juga diisi dengan santunan anak yatim dan kaum dhuafa. Secara moral, tentu ini langkah mulia.
Namun di tengah suhu politik yang mulai meningkat, aksi sosial seperti ini sering dibaca sebagai: “panggung empati” untuk meraih hati rakyat.
Apalagi dilakukan di hadapan deretan tokoh berpengaruh.
Nama Besar, Agenda Besar?
Acara dipimpin oleh Sugiat Santoso—figur yang sukses mengumpulkan banyak kepentingan dalam satu forum.
Menghadirkan kepala daerah, anggota legislatif, hingga elite partai dalam satu momentum bukan hal sederhana.
Ini bukan sekadar acara—ini peta kekuatan yang mulai digambar.
Pernyataan Manis, Realitas Panas?
Dalam sambutannya, Baharuddin menyebut acara ini sebagai penguat sinergi dan kebersamaan.
Namun publik semakin kritis. Kalimat seperti itu kini tak lagi cukup.
Yang ingin diketahui masyarakat adalah:
Apa yang sebenarnya dibicarakan di balik layar?
Apakah ada kesepakatan politik yang mulai dirajut?
Siapa merapat ke siapa?
Aroma “Deal” Mulai Tercium
Dengan berkumpulnya tokoh lintas kekuatan, spekulasi tak bisa dihindari. Forum seperti ini sering menjadi:
Tempat lobi tertutup
Ajang membaca kekuatan lawan dan kawan
Bahkan pintu awal koalisi politik
Dan jika itu benar terjadi, maka halalbihalal ini bukan lagi sekadar tradisi tahunan.
Publik Tak Mau Lagi Dibungkam Narasi Manis
Masyarakat kini semakin cerdas. Mereka tak hanya melihat apa yang tampak di panggung, tapi juga membaca apa yang tersembunyi di baliknya.
Apakah ini murni silaturahmi?
Atau justru awal dari pergeseran peta kekuatan di Sumatera Utara?
Satu hal yang pasti:
di balik senyum, salam, dan pelukan—politik sering bekerja paling sunyi, tapi paling menentukan. (mediaviral.net)









