Lampung Barat — MediaViral.net
Ini bukan sekadar perayaan. Ini ledakan budaya yang mengguncang kesadaran publik: Sekura Cakak Buah kembali hadir, tapi kali ini membawa pesan yang jauh lebih keras—bertahan atau hilang ditelan zaman.
Di Bumi Sekala Bekhak, euforia 1 Syawal tak hanya diisi gema takbir. Ia berubah menjadi panggung besar tempat masyarakat “berteriak” lewat tradisi. Dari 1 hingga 7 Syawal, jalanan, pekon, hingga kecamatan dipenuhi satu hal: identitas yang menolak punah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Topeng sekura tak lagi sekadar hiasan. Ia menjadi simbol perlawanan. Wajah-wajah anonim di baliknya seolah berkata:
“Kami masih ada. Kami belum hilang.”
Namun, di balik kemeriahan itu, ada realita yang tak bisa ditutup-tutupi—modernisasi terus menggerus. Budaya lokal satu per satu mulai tersisih, kalah oleh tren instan dan hiburan digital.
Di tengah situasi itu, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus muncul langsung di Pekon Luas, Kecamatan Batu Ketulis, Selasa (24/3/2026). Bukan sekadar hadir, tapi seolah ingin menunjukkan: ini bukan acara biasa—ini pertaruhan identitas daerah.
Ia menyapa warga, menyatu dalam keramaian, dan menyaksikan sendiri bagaimana Sekura bukan hanya tontonan, tetapi denyut hidup masyarakat.
Sementara itu, di Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Wakil Bupati Mad Hasnurin juga tak mau ketinggalan. Di tengah sorak sorai dan ketegangan “cakak buah”, ia berdiri di antara masyarakat yang berebut bukan sekadar buah—melainkan simbol kebersamaan yang mulai langka.
Dua lokasi. Dua pemimpin. Satu realita pahit:
Budaya ini sedang diuji.
Sekura Cakak Buah memang terlihat meriah—penuh tawa, penuh warna. Tapi di balik itu, tersimpan pertanyaan besar yang jarang diungkap:
Apakah ini murni pelestarian… atau sekadar seremoni tahunan tanpa arah?
Di balik topeng, semua orang setara—tanpa jabatan, tanpa status sosial. Ironisnya, di dunia nyata, sekat-sekat itu justru semakin tajam.
Tradisi ini mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan kebebasan berekspresi. Tapi di luar perayaan, nilai-nilai itu perlahan memudar.
Inilah paradoks Sekura.
Meriah di permukaan, tapi menyimpan kegelisahan di dalam.
Langkah Parosil dan Mad Hasnurin menghadiri pesta di dua tempat berbeda bisa dibaca sebagai sinyal kuat—atau justru alarm keras—bahwa pemerintah mulai sadar: jika tidak dijaga serius, budaya ini hanya tinggal cerita.
Selama tujuh hari, Sekura berputar dari satu wilayah ke wilayah lain. Tapi pertanyaannya:
Setelah hari ketujuh berakhir, apakah semangatnya ikut hidup… atau ikut mati?
Di Lampung Barat hari ini, Sekura bukan lagi sekadar tradisi.
Ia telah berubah menjadi garis pertahanan terakhir.
Dan jika garis ini runtuh, maka yang hilang bukan hanya sebuah pesta—
tapi jati diri sebuah daerah. (mediaviral.net)









