Dugaan Kasus Pabrik Tepung Ikan di Kobar Seakan Dipermainkan, Kinerja Jaksa Penuntut Umum Dipertanyakan

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah — MediaViral.net

Dugaan kasus pabrik tepung ikan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kembali menjadi sorotan tajam publik. Sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palangkaraya pada Selasa (13/04/2026) memunculkan berbagai pertanyaan serius, terutama terkait kinerja Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sejumlah pihak menilai, penanganan perkara ini terkesan janggal. Dugaan mengenai konstruksi kerugian negara yang dinilai “dipaksakan” semakin mencuat di tengah jalannya persidangan.

banner 600x600

Dalam persidangan, pihak terdakwa dengan tegas membantah tudingan JPU yang menyebut adanya kerugian negara hingga Rp2,8 miliar. Terdakwa berargumen bahwa proyek pabrik tepung ikan tersebut tidak fiktif, melainkan nyata, telah berdiri, memiliki mesin, bahkan sempat beroperasi dan menghasilkan produksi puluhan ton tepung ikan.

Fakta di lapangan ini kemudian memicu perdebatan sengit terkait metode penghitungan kerugian negara. Perbedaan sudut pandang mencolok terlihat antara pendekatan administratif berbasis dokumen dengan kondisi riil di lapangan.

Baca Juga :  Pelaksana Ade Bikin Bangunan Irigasi dari Dana Siluman Tidak Ada Papan Informasi

Publik mempertanyakan, apakah penghitungan kerugian tersebut benar-benar dilakukan melalui kajian menyeluruh, atau hanya berdasarkan data “di atas meja” tanpa verifikasi faktual yang memadai.

Menariknya, kasus ini juga disebut-sebut memiliki kemiripan dengan perkara yang pernah menjerat Amsal Sitepu, di mana hasil pekerjaan yang memiliki wujud fisik tetap dipersoalkan dalam konteks kerugian negara.

Perdebatan pun melebar ke isu yang lebih fundamental: bagaimana sebenarnya negara mendefinisikan kerugian? Apakah semata-mata berdasarkan selisih anggaran dan dokumen administratif, atau juga mempertimbangkan nilai guna (utility value) dari aset yang masih berfungsi?

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran publik terhadap integritas penegakan hukum, khususnya di lingkungan kejaksaan. Muncul pertanyaan keras: apakah penegakan hukum benar-benar berjalan sesuai aturan, atau justru rentan terhadap “pesanan” tertentu?

Lebih jauh, muncul dugaan adanya cacat prosedural dalam perkara ini. Proyek yang bersumber dari APBN murni disebut hanya dinilai oleh inspektorat kabupaten, sementara dasar penghitungan kerugian diduga hanya merujuk pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari jaksa, bukan hasil audit lapangan yang independen.

Baca Juga :  Polres Kobar Menggelar Apel dan Simulasi Sispamkota Untuk Mengantisipasi Dalam Menghadapi Pilkada 2024

Padahal, fakta produksi menunjukkan bahwa pabrik tersebut sempat berjalan. Tercatat, kontraktor pengelola pertama menghasilkan sekitar 10 ton tepung ikan, sementara kontraktor kedua mencapai 28 ton produksi.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin fasilitas yang telah beroperasi dan menghasilkan produksi justru dikategorikan sebagai rusak dan tidak berfungsi?

Atas berbagai kejanggalan tersebut, publik mendesak Kejaksaan Agung untuk turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja aparat di tingkat daerah. Transparansi dan profesionalitas dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Kasus ini kini tidak hanya menjadi perkara hukum semata, tetapi juga ujian terhadap integritas sistem penegakan hukum di Indonesia. (mediaviral.net)

banner 600x600

Berita Terkait

Oknum Anggota Polres Empat Lawang Diduga Diamankan Saat Berada di Rumah Bandar Sabu
Wartawan Bengkulu Laporkan Dugaan Pengancaman dengan Senjata Api, Nama TW Kembali Terseret Kasus Lain
PNS di Metro Meninggal Dunia Ditembak Usai Cekcok Soal Utang, Pelaku Diburu Polisi
Mengapa Bungkam? Dugaan Tertutupnya Informasi Dana BOS SDN 1 Hantatai Seret Disdikbud Lampung Barat dalam Sorotan
AJP Lampung Barat Somasi Peratin Sukabumi, Dugaan Korupsi Dana Desa Rp1 Miliar Disorot
Penyaluran Santunan 37 Anak Yatim/Piatu Desa Lhok Seutuy dari Dana Desa dan Infak Aparatur Desa Tahun 2026
SD Negeri 02 Bumi Nabung Disorot Warga, Kondisi Gedung Memprihatinkan dan Membahayakan Siswa
Transparansi APBG Dipertanyakan, Warga Cot U Sibak Desak Audit Inspektorat atas Pengelolaan Sejak 2018

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:33 WIB

Oknum Anggota Polres Empat Lawang Diduga Diamankan Saat Berada di Rumah Bandar Sabu

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:28 WIB

Wartawan Bengkulu Laporkan Dugaan Pengancaman dengan Senjata Api, Nama TW Kembali Terseret Kasus Lain

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:24 WIB

PNS di Metro Meninggal Dunia Ditembak Usai Cekcok Soal Utang, Pelaku Diburu Polisi

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:07 WIB

AJP Lampung Barat Somasi Peratin Sukabumi, Dugaan Korupsi Dana Desa Rp1 Miliar Disorot

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:02 WIB

Penyaluran Santunan 37 Anak Yatim/Piatu Desa Lhok Seutuy dari Dana Desa dan Infak Aparatur Desa Tahun 2026

Berita Terbaru