Lampung Utara – MediaViral.net
Jalan kabupaten yang menjadi urat nadi penghubung Desa Mekar Asri, Desa Batu Nangkep, Desa Galih Rejo, hingga Desa Negeri Campang Jaya, Kecamatan Sungkai Tengah, Kabupaten Lampung Utara menuju Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, kini tak ubahnya seperti kubangan maut.
Bukan sekadar rusak, kondisi jalan ini sudah masuk kategori memprihatinkan dan membahayakan. Lubang menganga di sepanjang jalan, dipenuhi lumpur dan genangan air, menjadikannya mirip kolam ikan lele raksasa. Batu-batu berserakan semakin memperparah kondisi dan mengancam keselamatan pengguna jalan.

Ironisnya, kerusakan ini bukan baru terjadi. Warga menyebut kondisi jalan sudah rusak parah sejak tahun 2016 hingga sekarang 2026, tanpa adanya perbaikan berarti dari pemerintah.
Tim Media Viral KPK yang turun langsung ke lokasi menemukan fakta bahwa hampir seluruh ruas jalan dalam kondisi rusak berat. Tidak terlihat adanya perbaikan, tidak ada aspal, hanya lubang, lumpur, dan genangan air di sepanjang jalan.
Salah satu warga berinisial HD mengungkapkan kekecewaannya.
“Jalan ini sudah rusak parah lebih dari 10 tahun. Dari 2016 sampai sekarang tidak pernah diperbaiki, baik oleh pemerintah daerah maupun pusat. Aspal saja tidak ada,” ujarnya.
Kondisi ini sangat berdampak pada aktivitas masyarakat. Saat musim hujan tiba, jalan berubah menjadi sulit dilalui. Kendaraan sering terjebak, dan risiko kecelakaan meningkat.
Yang paling memprihatinkan adalah kondisi anak-anak sekolah. Mereka harus melewati jalan berlumpur dan penuh genangan air setiap hari.
“Anak-anak berangkat sekolah bersih, tapi sampai di sekolah sudah kotor karena lumpur. Sangat menyedihkan,” kata warga lainnya.
Sebagai jalan penghubung antar kabupaten, kondisi ini memicu pertanyaan besar dari masyarakat.
Ke mana perhatian pemerintah selama ini? Mengapa jalan vital dibiarkan rusak bertahun-tahun tanpa penanganan?
Kekecewaan warga semakin memuncak karena jalan ini kerap dijadikan janji politik saat pemilu. Banyak calon legislatif yang menjanjikan perbaikan jalan, namun hingga kini belum ada realisasi.
“Setiap pemilu selalu dijanjikan akan diperbaiki. Tapi setelah terpilih, tidak ada kabarnya. Kami sudah tidak percaya lagi,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Warga menegaskan bahwa mereka tidak menuntut hal berlebihan.
“Kami tidak minta jalan seperti tol. Kami hanya ingin jalan ini diperbaiki dan diaspal agar layak dilalui,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil tindakan nyata. Jika terus dibiarkan, jalan ini bukan hanya menjadi simbol buruknya pembangunan, tetapi juga ancaman serius bagi keselamatan warga. (mediaviral.net)










