Lampung Utara – MediaViral.net
Aroma tak sedap dari pengelolaan Dana Desa kembali menyeruak. Kali ini datang dari Desa Banjar Ketapang, Kecamatan Sungkai Selatan, Lampung Utara. Nama Kepala Desa, Amirsyah Toni, ikut terseret dalam sorotan tajam warga yang mulai geram dengan dugaan penyimpangan anggaran yang dinilai tak masuk akal.
Bukan tanpa alasan. Deretan angka dalam APBDes terlihat “fantastis”, namun fakta di lapangan justru memunculkan tanda tanya besar. Sejumlah proyek yang dianggarkan ratusan juta rupiah disebut tidak tampak wujudnya, atau jauh dari standar yang seharusnya.

Beberapa anggaran yang memicu kecurigaan di antaranya:
Rambu-rambu jalan desa menelan Rp51 juta, namun keberadaannya dipertanyakan
Tiga kali pembangunan dan rehabilitasi balai desa dengan total lebih dari Rp190 juta, tetapi hasilnya dinilai tidak sebanding
Pengadaan sarana perkantoran berulang kali dengan nilai hingga puluhan juta rupiah
Penyertaan modal mencapai Rp138,6 juta yang belum jelas dampaknya
Anggaran “keadaan mendesak” Rp57,6 juta yang dinilai rawan disalahgunakan
Belum lagi sederet anggaran administrasi, pembinaan, hingga operasional yang jumlahnya terus mengalir, namun manfaatnya belum dirasakan maksimal oleh masyarakat.
“Anggaran besar, tapi hasil tidak jelas. Ini bukan lagi kelalaian, ini patut diduga ada yang tidak beres,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Kondisi ini memicu kemarahan warga. Mereka menilai pengelolaan dana desa terkesan tertutup dan jauh dari prinsip transparansi. Bahkan, muncul dugaan kuat adanya praktik mark-up hingga kegiatan fiktif yang hanya sebatas laporan di atas kertas.
Sorotan kini mengarah pada aparat penegak hukum, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia dan inspektorat daerah, untuk segera turun tangan. Desakan audit dan penyelidikan pun semakin menguat.
Jika dibiarkan, bukan hanya merugikan keuangan desa, tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah di tingkat paling bawah.
Kasus ini menjadi ujian serius: apakah dugaan ini akan dibongkar hingga tuntas, atau kembali tenggelam seperti kasus-kasus sebelumnya?
Warga kini tidak lagi hanya bertanya—mereka menuntut jawaban. (mediaviral.net)










