Lampung Utara – MediaViral.net
Pemandangan memalukan tersaji di jalan lintas provinsi Desa Madukoro Baru, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara. Jalur strategis yang seharusnya menjadi wajah daerah justru berubah menjadi “kubangan sampah” yang menjijikkan dan berbau menyengat.
Bertahun-tahun lamanya, pinggir jalan ini diduga sengaja dijadikan tempat pembuangan sampah liar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tumpukan sampah menggunung, membusuk, dan mencemari udara. Setiap pengendara yang melintas dipaksa menahan napas akibat bau busuk yang luar biasa menyengat.

Ironisnya, jalan ini bukan jalan kecil. Ini adalah jalur utama yang kerap dilalui pejabat penting, mulai dari kepala daerah hingga Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Namun kondisi kumuh ini seolah dibiarkan tanpa solusi bertahun-tahun.
Kondisi ini memicu pertanyaan keras dari masyarakat: di mana kesadaran warga? dan mengapa praktik pembuangan sampah liar ini seperti tak pernah tersentuh penindakan tegas?
Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, Camat Kotabumi Utara, Priyanto, justru menunjukkan aksi nyata yang jarang terlihat. Tanpa sekadar memberi instruksi dari balik meja, ia turun langsung ke lapangan memimpin pembersihan.
Bersama tim kecamatan dan warga, Priyanto mengangkut sampah-sampah busuk menggunakan mobil truk. Aksi bersih-bersih ini dilakukan pada Jumat, 10 April 2026.
Langkah ini bukan sekadar bersih-bersih biasa, melainkan tamparan keras bagi siapa saja yang selama ini membuang sampah sembarangan.
“Ini kami lakukan supaya masyarakat melihat langsung, betapa sulit dan menjijikkannya mengangkat sampah yang mereka buang. Jangan sampai ada lagi yang seenaknya menjadikan jalan sebagai tempat sampah,” tegas Priyanto di lokasi.
Ia juga mengingatkan bahwa sampah yang dibiarkan menumpuk bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga menjadi sumber penyakit dan pencemaran udara yang berbahaya bagi masyarakat luas.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa persoalan sampah bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga soal kesadaran. Tanpa perubahan perilaku, bukan tidak mungkin jalan lintas provinsi ini akan kembali berubah menjadi “neraka bau” yang memalukan bagi daerah. (mediaviral.net)










