Bireuen/Aceh, media-viral.id
25 Juni 2024
Di Desa Geulanggang Kulam, Bireuen, sepasang suami istri, Efendi Yusuf dan Darwati, tengah menghadapi cobaan hidup yang berat. Efendi, yang tidak dapat bekerja sejak kecelakaan lalu lintas delapan tahun yang lalu, kini bergantung sepenuhnya pada Darwati. Mereka masih tinggal di rumah sewa di desa setempat, dengan harapan besar agar pemerintah dapat membantu mereka memiliki rumah sendiri.
Kecelakaan yang dialami Efendi telah mengubah hidupnya secara drastis. Dari seorang pencari nafkah yang produktif, Efendi kini harus berjuang dengan keterbatasan fisik yang membuatnya tidak bisa lagi bekerja. Hal ini membuat beban hidup sehari-hari jatuh ke pundak Darwati. Meski begitu, Darwati tidak menyerah. Lima tahun yang lalu, dia mengambil keputusan sulit untuk menjual sebidang tanah pusaka miliknya dengan niat membangun rumah untuk keluarga mereka.

Sayangnya, uang hasil penjualan tanah tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan pembangunan rumah. Akibatnya, rumah yang diidamkan itu terbengkalai hingga saat ini. Dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas, pasangan ini tidak mampu melanjutkan pembangunan rumah tersebut. “Kami sangat berharap agar pemerintah dapat membantu kami untuk memiliki rumah yang layak,” ujar Darwati dengan nada penuh harap.
Namun, harapan tersebut tampaknya terhalang oleh kebijakan pemerintah desa yang dinilai tidak adil. Menurut sejumlah warga, Pemerintah Desa Geulanggang Kulam kerap kali menunjukkan sikap pilih kasih dalam setiap pemberian bantuan. Bantuan yang seharusnya disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, sering kali tidak sampai kepada pasangan ini. “Banyak warga yang merasakan hal yang sama, bahwa bantuan dari pemerintah desa tidak merata dan cenderung pilih kasih,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini menambah beban psikologis bagi Efendi dan Darwati, yang sudah cukup berat dengan masalah keuangan dan kesehatan. Mereka berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah daerah maupun pusat untuk membantu mereka menyelesaikan pembangunan rumah yang sudah lama terbengkalai. “Kami tidak meminta banyak, hanya ingin tempat tinggal yang layak untuk berteduh,” tambah Darwati.
Sementara itu, Pemerintah Desa Geulanggang Kulam belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan pilih kasih dalam penyaluran bantuan. Beberapa warga mengusulkan agar dilakukan audit independen terhadap distribusi bantuan di desa tersebut untuk memastikan transparansi dan keadilan.
Kisah Efendi dan Darwati adalah potret dari banyak keluarga yang menghadapi kesulitan serupa di berbagai pelosok negeri. Harapan mereka kini bergantung pada kebijakan pemerintah yang lebih adil dan peduli terhadap warganya yang membutuhkan. (media-viral.id)










