Bengkulu, 7 April 2026 | MediaViral.net
Pernyataan keras datang dari Kepala SMPN 16 Kota Bengkulu, Akhirman, S.Pd., M.TPd., yang secara terbuka menyoroti persoalan klasik dunia pendidikan: sekolah kotor yang seolah dianggap hal biasa.
Namun kali ini, sorotan tak hanya mengarah ke siswa. Akhirman justru “menyentil” lebih luas—mulai dari budaya sekolah, lemahnya pengawasan, hingga minimnya perhatian terhadap lingkungan pendidikan.

“Jangan biasakan sekolah dalam kondisi kotor. Kalau itu terus terjadi, berarti ada yang salah, bukan hanya di siswa, tapi di sistemnya!” tegasnya saat ditemui awak mediaviral.co, Selasa (7/4/2026).
Dengan jumlah 630 siswa, menjaga kebersihan tentu bukan perkara ringan. Namun menurutnya, jika seluruh pihak—guru, manajemen sekolah, hingga pemangku kebijakan—benar-benar serius, kondisi kumuh tidak akan dibiarkan berlarut-larut.
Ia bahkan secara tidak langsung mengkritik pola lama yang cenderung abai.
“Kalau setiap hari lihat sampah tapi dibiarkan, itu bukan tidak mampu—itu tidak peduli,” sindirnya tajam.
Sebagai bentuk perlawanan terhadap kondisi tersebut, Akhirman langsung menerapkan langkah tegas. Seluruh siswa diwajibkan membersihkan lingkungan sebelum kegiatan belajar dimulai. Tidak ada toleransi bagi yang melanggar.
Di sisi lain, gerakan penghijauan juga digencarkan. Pohon-pohon ditanam dan dirawat untuk mengubah suasana sekolah yang sebelumnya terkesan panas menjadi lebih sejuk dan nyaman.
Namun di balik langkah itu, kritik kembali diarahkan ke pihak luar sekolah. Ia menilai, upaya perubahan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah tanpa dukungan nyata dari pemerintah.
“Sekolah dituntut bersih dan hijau, tapi dukungan minim. Ini yang harus jadi perhatian. Jangan hanya minta hasil, tapi fasilitasnya tidak diperhatikan,” ujarnya.
Akhirman pun berharap Pemerintah Kota Bengkulu, khususnya Wali Kota, dapat turun langsung memberikan bantuan berupa bibit tanaman dan dukungan program lingkungan.
Pernyataan ini seolah menjadi sinyal keras: perubahan tidak akan terjadi jika semua pihak hanya saling melempar tanggung jawab.
Kini publik menanti, apakah ini akan menjadi momentum pembenahan serius dunia pendidikan di Bengkulu, atau justru kembali menjadi wacana yang menguap tanpa tindak lanjut. (mediaviral.net)










