Medan / Sumatera Utara, mediaviral.net
Ditengah deru mesin dan klakson kendaraan yang padat di jalanan Kota Medan, ada kisah sunyi yang tak terdengar. Kisah tentang cinta, kerja keras, dan ketulusan.Rabu 25/6/25
Namanya Sentosa Sembiring. Usianya 53 tahun. Setiap hari, ia mengemudikan angkot jurusan Medan–Tuntungan dari pagi hingga malam. Bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi demi satu hal: menjaga mimpi anak-anaknya tetap menyala.

Sentosa bukan siapa-siapa di mata kota. Ia bukan pejabat, bukan pemilik perusahaan. Tapi di balik setir, ia adalah seorang ayah yang bertahan di tengah kerasnya hidup. Ia menyusuri jalan bukan untuk mengejar ambisi, tapi untuk menghidupi harapan.
Dua tahun terakhir, Sentosa menjadi sopir angkot No. 110. Sebelumnya, ia adalah pedagang jagung keliling antar pasar. Namun, kerasnya persaingan dan perubahan gaya hidup masyarakat membuat usahanya runtuh.
“Waktu itu rasanya kayak dihantam ombak besar,” katanya lirih. Ia lalu beralih profesi menjadi sopir harian, menyewa angkot, dan menyetorkan Rp250 ribu setiap hari kepada pemilik kendaraan—apapun hasil yang didapat.
Kadang hasilnya cukup untuk makan, kadang malah tekor. Tapi Sentosa tak pernah menyerah. Ia memilih tetap bertahan demi keluarga. Empat anak dan tiga cucu menjadi alasan utamanya untuk terus menghidupkan mesin angkot itu setiap pagi.
Dua anak perempuannya berhasil menamatkan kuliah di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan. Satu bekerja di Bank Permata, satunya lagi telah berkeluarga. Anak ketiga berdagang di Pekanbaru. Anak bungsunya baru tamat SMA dan kini lebih banyak membantu di rumah.
“Kalau anak masih mau sekolah, saya usahakan. Tapi kalau mereka sudah punya jalan sendiri, saya harus legowo,” ujarnya, menerima kenyataan dengan hati lapang.
Cinta Sentosa tak ditunjukkan lewat hadiah mahal. Tapi melalui peluh dan ketulusan. Di balik kemudi, ia menyimpan lelah. Namun di sana juga tersimpan doa. Meski pendapatan tak menentu, ia masih menyisihkan uang jajan untuk cucunya.
“Namanya juga kakek, masa nggak pengen kasih jajan cucunya?” ujarnya sambil tersenyum.
Dari rumah kontrakan di pinggiran Medan, ia dan istrinya merawat kehidupan dengan sederhana. Sang istri adalah saksi setia perjalanan mereka—dari pasar ke jalanan, dari jagung ke angkot.
Dari situlah Sentosa belajar, bahwa hidup mulia tak selalu berarti tampil di atas panggung. Terkadang, ia tumbuh dari kesunyian dan pengorbanan seorang ayah.
Kisah Sentosa adalah potret nyata keteguhan warga biasa yang membangun kota dengan cara mereka sendiri. Kota ini tak hanya berdiri di atas beton dan baja. Tapi juga atas doa-doa diam mereka yang tetap berjuang tanpa pamrih.
Kini, di usia senja, Sentosa masih mengemudikan angkotnya. Tak cepat, tapi pasti.
“Cukuplah saya yang hitam karena matahari. Biar anak-anak saya tumbuh dengan cahaya masa depan,” tutupnya sambil menatap langit sore, penuh harap.(KRO/RD/AN)










