Lampung — MediaViral.net
Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026, Polda Lampung menggelar simulasi besar-besaran penanganan unjuk rasa di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, Rabu (15/04/2026).
Simulasi ini dipimpin langsung oleh Helfi Assegaf bersama Sumarto, sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi gejolak di lapangan.

Namun di balik itu, publik mulai bertanya: apakah ini benar-benar kesiapan matang, atau hanya rutinitas tahunan yang berulang tanpa evaluasi nyata?
Simulasi Digelar, Ancaman Nyata di Depan Mata
Kegiatan ini melibatkan berbagai satuan, mulai dari Brimob, Samapta, Lalu Lintas, hingga jajaran polres wilayah.
Personel memperagakan berbagai skenario, dari aksi damai hingga situasi yang berujung kericuhan. Semua tampak rapi, terstruktur, dan terkendali.
Tapi kenyataannya, kondisi di lapangan sering kali jauh berbeda dari skenario.
Tidak sedikit kasus sebelumnya menunjukkan bahwa eskalasi massa bisa terjadi cepat dan sulit dikendalikan, bahkan dengan persiapan yang terlihat matang.
Pendekatan Humanis Digaungkan, Tapi Akankah Konsisten?
Dalam simulasi, aparat menampilkan pendekatan bertahap:
Negosiasi dengan massa
Pengamanan jalur
Pengendalian oleh Dalmas awal hingga lanjutan
Penanganan darurat dan layanan kesehatan
Pendekatan ini diklaim sebagai bentuk profesional dan humanis.
Namun publik tentu masih mengingat berbagai penanganan aksi di sejumlah daerah yang berujung benturan.
Pertanyaannya: apakah pendekatan humanis ini akan benar-benar diterapkan saat tekanan di lapangan meningkat?
Kapolda Tekankan Kesiapan, Semua Polres Diminta Siaga
Dalam arahannya, Helfi Assegaf menegaskan pentingnya kesiapan total personel melalui pembentukan kekuatan peleton dan kompi kerangka.
Seluruh kapolres jajaran diminta tidak lengah dan wajib mengantisipasi segala potensi gangguan kamtibmas.
Instruksi ini menunjukkan bahwa aparat menyadari potensi kerawanan yang tidak bisa dianggap remeh.
Bukan Hanya Buruh, Semua Dinamika Jadi Sorotan
Menariknya, pemantauan tidak hanya fokus pada aksi buruh, tetapi juga mencakup dinamika yang berkaitan dengan pemerintah, DPR, TNI, hingga Polri.
Hal ini menandakan bahwa situasi sosial menjelang May Day dipandang cukup sensitif dan berpotensi meluas.
Kesimpulan: Siap di Lapangan atau Hanya Siap di Skenario?
Simulasi besar telah digelar. Instruksi tegas sudah diberikan. Kesiapan pun diklaim maksimal.
Namun ujian sesungguhnya bukan di lapangan latihan, melainkan di jalanan saat massa benar-benar turun.
Apakah aparat benar-benar siap menghadapi situasi nyata, atau justru kembali kewalahan saat tekanan meningkat?
May Day 2026 akan menjadi jawabannya. (mediaviral.net)










