Lampung Barat – MediaViral.net
Manuver berani ditunjukkan Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus. Tak sekadar audiensi biasa, Parosil datang ke Jakarta dengan satu pesan tegas: Lampung Barat punya potensi besar, dan DKI Jakarta tidak boleh lagi mengabaikannya.
Dalam pertemuan panas bersama Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, Jumat (17/04), Parosil secara terbuka “menantang” Pemprov DKI untuk membuktikan komitmennya dalam membangun sinergi antardaerah.

Bukan tanpa alasan. Selama ini, potensi Lampung Barat—dari kopi unggulan hingga hortikultura seperti cabai, kubis, wortel, dan alpukat—dinilai hanya menjadi komoditas pinggiran, tanpa dukungan maksimal dari pasar besar seperti Jakarta.
“Kalau dikelola serius, Lampung Barat bisa jadi penopang pangan ibu kota. Pertanyaannya, mau atau tidak?” sindir Parosil dengan nada tegas.
Tak berhenti di sektor pertanian, Parosil juga “melempar kartu besar”: investasi hilirisasi kopi dan energi panas bumi (geothermal) di enam titik wilayah. Sebuah peluang yang jika diabaikan, disebut-sebut sebagai kerugian strategis bagi kedua daerah.
Di sisi lain, isu lingkungan hingga kolaborasi antar-BUMD ikut disorot. Parosil bahkan secara terang-terangan mendorong kerja sama konkret antara BUMD daerahnya dengan PD Pasar Jaya.
Namun yang paling menyentak, Parosil membuka kondisi riil di lapangan: keterbatasan armada pemadam kebakaran.
Dengan wilayah rawan bencana, Lampung Barat hanya memiliki enam unit mobil damkar dan 121 personel. Kondisi ini dinilai “jauh dari aman” dan berpotensi menjadi bom waktu jika tidak segera ditangani.
Pesan tersiratnya jelas: daerah tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri.
Tekanan itu rupanya tak sia-sia.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya angkat bicara dan menyatakan kesiapan untuk membantu. Bahkan, bantuan yang dijanjikan bukan kaleng-kaleng—mulai dari mobil damkar, ambulans, hingga truk sampah.
“Kami terbuka dan siap menindaklanjuti. Ini harus jadi kerja sama nyata, bukan sekadar wacana,” tegas Pramono.
Tak hanya bantuan fisik, DKI juga siap “turun tangan” dalam peningkatan SDM, khususnya hilirisasi kopi melalui pelatihan dan pendampingan UMKM.
Pengamat menilai, pertemuan ini bukan sekadar audiensi, melainkan sinyal kuat bahwa daerah mulai berani “menekan” pusat-pusat ekonomi agar lebih adil dalam membangun kolaborasi.
Kini publik menunggu: apakah ini benar-benar awal perubahan, atau hanya janji yang kembali menguap?
Satu hal pasti—Lampung Barat sudah mengetuk pintu. Dan kali ini, ketukannya terdengar keras. (mediaviral.net)










